Cerita Masa Kecil

“Eh kamu Ndre.. Ayo masuk. Tapi Anto ga ada. Barusan aja berangkat ke Surabaya ama Bapaknya” Sambut seorang wanita ketika membuka pintu rumahnya. Pagi itu setelah olah raga pagi. Iseng saja aku mampir ke rumah Anto, salah seorang temanku yang rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumahku. Hitung-hitung cari teman karena subuh tadi kedua orang tuaku juga ada acara ke Jakarta, seminggu malah. Acara kantor katanya. “Oo, Anto emang liburan di Surabaya ya tante?” tanyaku basa basi. Padahal kemarinnya juga aku tahu kalo temanku tu mau ke Surabaya menghabiskan liburan semesteran di sana. “Iya. Lho Anto nggak bilang ta?” jawab wanita itu. Aku hanya tersenyum. “Iya tante, aku cuman mau ngopy game di komputernya Anto, kalo boleh.” Jawabku mencari alasan. “Ooo, gitu ta.. itu lho kamu langsung aja ya, aku nggak tau” ujar wanita itu yang tidak lain adalah bu Bambang, ibu salah seorang teman sekolahku. Aku segera masuk ke dalam rumah itu.

Aku memang sudah hafal betul dengan rumah itu. Maklum aku sering bermain di sana. Segera aku menghidupkan komputer yang ada di ruang tengah. “Ta tinggal ke dapur ya” ujar bu Bambang sambil berlalu. Kupandangi wanita itu berjalan sampai menghilang di balik pintu. Entah kenapa di usia yang masih sangat dini itu aku sudah menyukai lawan jenisku. Aku juga nggak tahu kenapa dadaku selalu berdegup kencang dan darahku seakan mengalir lebih cepat bila melihat wanita cantik. Dan yang lebih aneh lagi, kemaluanku sering kali menegang. Aku lebih suka dengan wanita yang usianya jauh di atasku bahkan tidak jarang ibu-ibu, mungkin karena tubuhnya sudah terbentuk lain dengan teman sebayaku. Nah, bu Bambang ini termasuk salah satu favoritku. Wajahnya lumayan cantik. Kulitnya tidak putih tapi body nya amohay. Tidak langsing sih tapi juga tidak gemuk. Tapi yang menjadi perhatian adalah buah dada nya yang montok alias besar.
“Permisi” terdengar suara wanita dari pintu depan yang membangunkanku dari lamunan. Tak lama kemudian bu Bambang keluar dan menemui temannya di ruang tamu. Tampaknya mereka bertengkar. Tamu yang ku ketahui namanya bu Sri terlihat marah-marah ke bu Bambang. Aku sendiri berusaha tidak mendengarkan sambil sibuk mengutak-atik komputer. Tak lama kemudian bu Sri terlihat pulang tetapi masih dengan marah-marah. Bu Bambang hanya terus meminta maaf kepadanya.
Merasa nggak enak aku ingin segera pamit. Setelah mengantar bi Sri keluar, bu Bambang duduk di sofa tengah sambil menghela nafas panjang. Tanpa kuminta, wanita itu menceritakan kalau ia terbelit hutang pada bu Sri untuk membeli perhiasan. Awalnya sih cuman 400ribu, tapi sekarang malah jadi sejuta lebih, gerutunya. “Mungkin, pak bambang harus tau. Tapi dia pasti marah besar” gumam bu Bambang. “Eh, maaf ya, malah cerita ke kamu Ndre.. sudah game nya?” sik ya ta buatin minum. Aku hanya diam melihatnya berlalu. Kasihan juga wanita ini. Salahnya juga membeli barang ke rentenir. Tapi aku meraa sangat iba kepadanya, aku ingin sekali membantunya.tapi gimana caranya? Kulihat secarik kartu nama di atas sofa. Di sana tertera nama Bu Sriyatun, yang pasti wanita itu tadi. Lengkap dengan alamat dan nomor teleponya. Tak lama kemudian wanita itu muncul membawa segelas the hangat.
Setelah minum teh, aku segera pamit. Entah kesambet darimana, aku akhirnya menuju alamat bu Sri yang sebelumnya mampir ke ATM untuk mengambil uang. Aku mengaku keponakan bu Bambang dan segera membayar semua hutangnya pada bu Sri itu. Jumlahnya lumayan, total Rp. 1.400.000,-. Untung aja uangku cukup. Setelah itu aku langsung pulang, kuitansi pembayaran kata bu Sri akan dikirim ke rumah bu Bambang.
Sore sekitar pukul setengah empat, aku terbangun oleh suara telepon rumah yang berdering. “Halo, bu Edy ada?” tanya suara itu. Aku menjelaskan kalau orang tua ku sedang ke Jakarta. “Dari siapa? Tanyaku balik. “Ini Andre ya? Ini bu Bambang, mama mu nggak ada ya?” tanya lagi. Aku juga heran kenapa wanita itu yang notabene juga terhitung tetangga langsung menutup teleponnya.
Beberapa saat kemudian bel rumah yang berbunyi. Ternyata bu Bambang yang datang. “Kamu sendirian di rumah? Tanya wanita itu langsung masuk tanpa kusuruh. “Iya, papa mama ke jakarta, kebetulan bi Inah juga mudik” jawabku sambil duduk. “Eh, kamu ta tadi yang ke bu Sri? Tanya wanita itu sembari duduk di sebelahku. Aku mengangguk menahan kaget karena dia langsung duduk di sampingku. “Trus kalo mamamu tau” tanyanya. Aku menjelaskan padanya kalo mamaku juga nggak tau kalo aku punya tabungan itu, jadi aman. Wanita itu sangat berterima kasih padaku dan berjanji kalo punya uang, ia akan membayarnya. Kemudian ia pamit pulang. “Eh, ntar malem kamu nginep di rumah aja ndre” ujar bu Bambang sebelum keluar dari pintu. “Di rumah juga sepi, pak Bambang baru pulang dua hari lagi. Gimana?” tanyanya. Aku bingung mau menjawab. “Gini wis, nek iya nanti kamu telp aku dulu ya!” ujarnya. “Enak-enak, kalo nginep dirumah” ujarnya kemudian pulang.
Waktu baru menunjukkan jam 7 malam, aku cukup merinding di rumah sendirian. Akhirnya ku pertimbangkan ide untuk tidur di rumah bu Bambang walaupun sebenarnya aku malu. “Halo” Eh, maaf bu, ini andre, eee… anu bu.. saya” ujarku terputus-putus. Wanita itu menyambut baik. Malahan ia menyuruhku untuk lewat pintu samping belakang soalnya pintu ama pagar depan rumahnya sudah terlanjur dia kunci. Setelah kukunci semua pintu, aku melangkah menuju rumah wanita itu. Dengan ragu kuketuk pintu yang ada di samping belakang rumah itu. “Kamu Ndre??” terdengar suara dari balik pintu sebelum pintu itu terbuka.
Aku segera masuk ke rumah tersebut. Ternyata ia sudah menyiapkan makan malam untukku. “Maem yang banyak ya, aku mau melanjutkan nata lemari” ujarnya sembari menuju masuk kamarnya. Setelah menghabiskan makanku aku segera menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Tak lama kemudian bu Bambang muncul dan duduk di sebelahku. “Akhirnya selesai juga” gumamnya seraya mengusap keringat di kepalanya. “Wuh, sumuk pol! Ganti baju dulu ae” ujarnya sendiri lalu melangkah masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian ia muncul dengan mengenakan daster tanpa lengan berwarna merah marun dan kembali duduk di sofa panjang tempat aku duduk. Ia lalu mengikat rambutnya yang sebahu dengan karet. Tanpa sengaja aku melihat gerak gerik wanita itu. “Heh, liatin apa!” hardik bu Bambang yang mengagetkanku. “Eh, anu.. eh.. ketiaknya bu Bambang kok banyak bulunya” jawabku seadanya. “He, iya. Belum dicukur he.. ya iya lah.. nanti kamu juga gitu, kalo udah dewasa” jelasnya. Aku hanya mengangguk. “Eh kamu udah sunat ndre?” tanyanya. Aku menggeleng. “Iya nanti, kalo kamu udah sunat, trus kamu mimpi basah, itu berarti kamu dah gede” ujarnya. “Mimpi basah??” gumamku. Beberapa bulan terakhir ini sebenarnya ada kejadian aneh pada diriku. Aku sepertinya mengompol tapi yang kukeluarkan bukanlah air kencing seperti biasanya, tapi sesuatu yang lengket dan berbau aneh. Warnanya putih seperti bubur kanji. Karena takut, aku tidak menceritakannya pada orang lain.
“Iya mimpi basah ndre, kayak ngompol tapi bukan ngompol, emang kamu pernah ta? Tanyanya sembari menoleh kepadaku. Aku menggeleng. “Nggak pernah bu” jawabku berbohong. “Iya pun ga papa ndre, itu normal kok. Semua laki-laki akan gitu, tapi iya sih kamu kan belum sunat” ujarnya.”kalo bukan pipis, apa yang keluar? Tanyaku pelan memberanikan diri karena aku juga penasaran. Wanita itu tersenyum. “Yang keluar air mani Ndre. Nah, air mani itu mengandung sperma” jelasnya. “Air mani??” gumamku. “Iya air mani, eh kamu dah pernah paling..kok nanya-nanya” tanyanya balik. “Enggak kok bu, nggak” jawabku cepat. “G usah bohong..” ga papa kok, ga usah malu” timpalnya. “Sebenarnya iya sih, tapi saya takut” jawabku pelan dengan kepala tertunduk. “Nggak perlu takut ndre, iu wajar kok. Tu berarti kamu dah dewasa ndre” katanya sambil tangannya mencubit hidungku ringan. “Dewasa??” gumamku pelan. “Iya dewasa ndre” timpal bu Bambang. Kemudian wanita itu memandangiku dan sesaat kemudian terlihat senyuman tersungging di bibirnya. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kemudian ia duduk tepat di sebelahku bahkan berdempetan denganku.
Bu Bambang lalu memegang tanganku dan dibelainya. “Makasih ya ndre, kamu baik sekali ama aku” gumamnya. Wanita itu mengingatkanku tentang pembayaran hutangnya tadi siang. Entah apa yang kurasakan saat itu. Yang jelas sentuhan tangannya membuat darah di tubuhku mengalir lebih cepat dan seakan-akan mengumpul di kemaluanku yang langsung menegang. Nafsuku semakin menggelora apalagi ketika wanita itu mencium tanganku dan mengelus-eluskannya ke pipinya yang terasa lembut. Hasratku semakin menjadi-jadi seakan tak peduli kalau wanita itu adalah ibu dari temanku. Entah setan mana yang merasukiku, spontan saja aku mencium pipi kiri wanita itu. Wanita itu terhenyak dan langsung menoleh ke arahku dengan pandangan yang tajam. Melihat reaksinya aku langsung takut dan merasa sangat bersalah. “Ma.. ma..af bu” gumamku pelan sambil menundukkan wajahku. Kemudian bu Bambang menyentuh daguku dan mengangkatnya seakan ia ingin aku melihatnya. Kulihat wajah wanita itu tersenyum yang sangat melegakan hatiku sebagai tanda kalau ia tidak marah dengan perbuatan nekadku tadi. “Eh yang kanan belum ndre” ujarnya sambil seperti menyodorkan pipi kanannya. Aku hanya diam karena takut. “Lho kok malah takut?? Tadi kamu malah curi-curi ngesun, sekarang dikasih malah ga mau?!” ujarnya lagi. “Hayo mau apa nggak, ntar malah aku nggak mau lho??” tanyanya setengah menggoda. “Mau, aku spontan menjawab dan langsung mencium pipi kanan wanita itu. “Nah gitu dong..itu namanya dah gede! kamu suka ndre??” Tanya bu Bambang. Aku mengangguk pasti. Tanganku segera membetulkan posisi burungku yang langsung berdiri mengeras setelah tadi mengecil ketika takut kalau-kalau wanita itu marah padaku. Kedua mata bu Bambang menangkap basah gerakan tanganku. “eeee… burungmu berdiri ya???” Tanya wanita itu sambil mencubit hidungku. Aku menggeleng berbohong tapi wanita itu sepertinya tidak percaya, terlihat dari senyumannya. “Kamu dah sering onani ya?” tanya bu Bambang kemudian. “onani???” apaan tuh?? Pikirku. Aku hanya menggeleng. “Ah masak… nggak usah bohong deh…” kejar wanita itu sambil mencubitku. Kini perutku yang jadi sasaran. “Onani itu apa bu? Tanyaku balik. “Trus kalo burungmu berdiri kayak gitu kamu ngapain?” lanjutnya. Aku hanya menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan wanita itu. Sejenak ia terdiam.
“Ndre, aku punya sesuatu buat kamu tapi kamu harus janji tidak menceritakannya pada siapapun juga. Bisa ndre??” tanya bu Bambang sambil menatapku yang tidak mengerti apa maksud perkataannya. “Janji ya ndre???!” ujarnya lagi. Aku hanya mengangguk tanpa mengerti maksudnya. Lalu wanita itu berdiri tepat di depanku. Dengan sigap ia melepas daster yang dikenakannya. Aku terkejut sekali melihat pemandangan yang baru pertama kali itu kulihat dalam hidupku. Wanita itu berdiri di depanku dengan hanya mengenakan BH dan CD saja. Belum aku menenangkan diri, wanita itu kemudian melepas BH yang dipakainya dan tersembulah buah dada wanita itu yang lumayan besar meski sudah agak turun. Tidak hanya itu, wanita itu lalu melorotkan celana dalam yang dipakainya sehingga ia benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Pandanganku tertuju pada bagian bawah perutnya yang ditumbuhi bulu yang lumayan banyak. Sesaat wanita itu sibuk merapikan rmbutnya dan mengikatnya dengan karet.
Lalu bu Bambang menghampiriku dan mengulurkan tangannya seakan menyuruhku untuk berdiri. Ia langsung berusaha melepas celana pendek yang aku pakai. Anehnya aku hanya diam saja waktu ia melorotkan celanaku sehingga kemaluanku yang waktu itu tidak begitu besar langsung tersembul keluar, berdiri tegak lengkap dengan kulupnya. Maklum kala itu aku masih belum sunat. Tanpa banyak bicara wanita itu lalu menarik kulup t*t*tku sehingga bagian dalam kepalanya yang berwarna kemerahan tersembul keluar. Aku seperti terhipnotis ketika bu Bambang langsung menjilati lat pipisku yang sangat keras itu. Terasa sangat geli dan enak. Nafasku mulai memburu. Apalagi ketika ketika mulut wanita itu mengulum kepala burungku dan memainkannya dengan lidahnya. Aku sangat menikmati permainannya. Beberapa saat kemudian wanita itu bangkit. “ayo gentian” gumamnya kemudian duduk di sofa. Kedua kakinya dibuka sehingga pangkal pahanya terlihat jelas. Itu pertama kalinya aku melihat bagian paling sensitive dari seorang wanita yang usianya jauh di atasku. “Ayo dong ndre, jangan diliatin aja” perintah wanita itu. Aku langsung mendekatkan wajahku kea rah nagian kewanitaannya dan menciumnya. Baunya khas sekali dan sangat merangsang. Bentiknya juga indah sekali seperti lipatan-lipatan daging. Aku semakin bernafsu menjilatinya. Kurasakan semakin lama vagina wanita itu semakin basah oleh lender. Nafas wanita itu mulai ngos-ngosan. Mulutnya mendasis dan meracau seperti orang kepedesan. Sesekali tangannya mengusap-usap kepalaku. Entah insting dari mana, aku ingin sekali memasukkan burungku ke dalam lubang itu. Aku lalu berdiri dan mengarahkan burungku ke vaginanya. “Iya ndre, ayo masukin” gumam wanita itu sambil meraih batang kemaluanku dan dirahkannya dengan tepat. “dorong ndre” gumamnya. Dan dengan sekali dorong , “bleshh” batang kemaluanku terbenam dalam liang vagina bu Bambang. Aku rasakan kemaluanku bagai dihimpit sesuatu yang hangat, basah dan berdenyut. Sensasi yang luar biasa. Sadar dengan aku yang masih belum tau apa-apa. Wanita itu mulai menggoyangkan pinggulnya yang terasa semakin nikmat. Aku makin mengerti. Pelan aku mengimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku maju mundur yang makin lama semakin cepat. “Iya ndre gitu… sssttsss… ayo dre… ohhh” mulut bu Bambang semakin meracau. Ia kemudian hanya diam seperti menikmati burungku yang mengocok-ngocok kemaluannya.
Gerakanku makin cepat. Tapi belum 1 menit aku merasa ingin pipis. Kucoba kutahan tetapi aku tak kuasa. Takut akan kenapa-kenapa segera kutarik keluar t*t*tku ketika semuanya seperti mengumpul di kepala burungku. Secara reflek ku pegang kemaluanku sendiri dan tidak mengarahkannya ke wanita itu. akhirnya…ooooohhhhh “cret… cret… crettt… crettt…” burungku menyemburkan cairan banyak sekali diiringi dengan kenikmatan tiada tara. Aku sampai merem melek karenanya. Wanita itu bangkit dan meraih burungku dan mengocoknya. “enak ndre??” Tanya wanita itu dengan suara parau. Aku mengangguk sambil menikmati sisa-sisa kenikmatanku. Tubuhku terasa lemas sekali. Seluruh tenagaku seperti habis terkuras. “Kok dikeluarkan di luar sih? Di dalem kan enak” gumam bu Bambang lagi. Ia lalu menjelaskan bahwa yang kualami tadi adalah klimaks, dan yang ku keluarkan adalah air mani yang di dalamnya terkandung spermaku. Kulihat air maniku berceceran banyak sekali di lantai dan sofa rumah itu. Putih kental seperti yang kukeluarkan pada waktu mimpi basah.

“Tante juga enak??” tanyaku akhirnya bersuara. “iya enak tapi aku belum keluar kamu dah keluar dulu, ga jadi deh” jawab wanita itu. “eh habis ini lagi ya?! Aku juga pengen kluar” ajaknya sambil membersihkan cairan spermaku dengan dasternya. Kemudian ia mengajakku ke dalam kamar. Kami melakukannya lagi. Ia juga mengajariku berbagai macam gaya bercinta dan cara menahan klimaksku. Hamper 1 jam aku dan wanita itu saling memacu birahi dalam permainan yang penuh kenikmatan. Tak peduli keringat dan tenaga yang keluar, yang penting nikmat. Di permainan yang kedua aku juga beberapa kali berhasil membuat wanita itu mencapai puncak kenikmatannya. Sampai akhirnya kemaluanku memuntahkan air maniku untuk kedua kalinya. Tapi kali ini di dalam lubang vagina wanita itu yang rasanya jauh lebih enak daripada yang pertama tadi. Lalu kami berdua tidur kelelahan.
Post Title : Cerita Masa Kecil

Cerita Masa Kecil,

Cerita Masa Kecil

0 komentar

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.