Ketika Tsunami Terjadi

Semua hiruk pikuk. Tak ada yang tau bagaimana keadaan demikian cepet bisa memorakporandakan kampung. Linda dan Maskun terhenpas olehombak. Kedua ibui bapa mereka tak tau kemana. Saudara-saudara mereka juga tak tau kemana. Yang diketahui LInda, saat matanya terbuka dengan tubuh lemas, dia berada di sebuah hutan dan lama dia baru bisa sadar, kalau terjadi bahaya. Suara gemuruh, kemudian kayu

berderak-derak dan orang-orang berteriak, kemudian rumahmereka dibantai ai4r dari luar dan hancur. Ketika itu mereka sekeluarga sedang makan pagi dengan cerita.
Linda menangis karena tak ada orang di sekelilingnya. Maaaakkkk…. demikian Linda berteriak. Tak ada jawaban. Di sisi lain, Maskun juga tersadar. Lamat-lamat dia bangkit dan mendengar suara teriakan. Dia yakin sekali itu suara Linda adiknya dan dia pun memanggil nama adiknya. Mereka bersahut-sahutan. Dengan tubuh lunglah Maskun mendekati suara dan dalam jarak 20 meter dia melihat adiknya Linda 15 tahun dengan pakaian compang camping. Baru Maskun melihat tubuhnya sendii, yang tinggal celana jeans yang kuat dan bajunya juga compang samping.
“Kina dimana, Uda…” tanya Linda. Mereka berangkulan. Linda hanya memakai rok yang compang camping dengan tubuhnya ada bercak-bercak darah yang sudah mengering, tinggal terasa perihnya. Maskun juga tubvuhnya penuh bercak darah. Maskun tak menjawab pertanyaan adiknya. Dibimbingnya adiknya ke tepian sungai. Alir sungai yang kecil, namun jernih. Maskun pergi ke sebatang pohon, dia menemui masih ada jalaran daun sirih. Maskun ingat kalau mereka berada di suatu tempat yang biasanya dia berburu di sana. Dibersihkannya luka tubuh adiknya, mulai dari bagian kaki, paha, perut dan di bawah buah dada. Kemudian luka-luka itu ditempelinya dengan kunyahan daun sirih. Mulanya terasa perih, namun kelamaan luka akan menyatu. Demikian juga padanya.
Mereka pun ditolong oleh orang-orang pada keesokan harinya. Sebelum mereka bertemu dengan orang, Maskun tak mamu membawa adiknya kemana-mana. Maskun mengmpulkan apa yang ada. Banyak [pakaian sobek tersangkut di pepohonan, kemudian dijalin dengan baik. Maskun membuat sebuah tempat tidur dari kain. Kedua ujung kain diikatkan pada pohon kayu agak ketinggian. Linda yang didudukkan di pohon tinggi karena pergelangan kakinya terkilir, terpaksa digendong oleh Maskun (21 tahun).
Maskun berjalan menyusuri hutan yang tersapu Tsuami. DIa mendapatkan dua kotak mie instan, ada beberapa bungkus sudah rusak tapi masih banyak yang masih utuh. Dia terus mencari dan mencari apa saja yang dibawa oleh gelombang ke sebalik gunung itu. Untung Maskun mendapatkan beberapa buah mancis, ada rantang dan sebagainya. Semua dia bawa ke tempat adiknya yang didudukkan.
Maskun pun mencari ranting-ranting kayu yang mudah kering. Mengisi rantang dengan air anak sungai yang termasuk jernih. Ranting kayu yang banyak itu di bakar dan ranting kayu yang masih lembab diletakan di tepian api agar cepat kering. Dengan lahap, Masmkun makan bersama LIna adiknya itu. Ketika Maskun mau pergi mencari pertolongan., Linda si manja tak mau ditinggalkan.
Maskun yang pernah mendapat latihan Pramuka selama 7 tahun dari siapa sam;pai penegak, mampu hidup survive. Malamnya mereka pun tidur dalam sayu ayunan di antara dua pohon. Kain-kain yang mereka cuci tadi siang masih lembab, hingga tak bisa dipakai jadi selimut.
Linda si imut memang sangat penakut. Sedikit saja ada suara aneh baginya, dia langsyung memeluk Maskun abangnya. Mereka pun berpelukan sepanjang malam. Saat Linda tertidur nenyak dalam pelukan abangnya, saat itu Maskun terbangun. Saat itu juga iblis merasukinya. Dia lupa pada ibo-bapa adik adik-adiknya dan lupa kepada siapa saja, apakah mereka masih hidup atau belum. Maskun sedang memeluk adiknya, yang hanya memakai rok robek-robek dan tingall celana dalam serta bra juga sudah dilepas, karena untuk mengobati luka di bawah payudaranya
Maskun terangsang. Teyek adeknya yang demikian mengkal, menyatu dengan dadanya. Kontolnya bangkit berdiri. Perlahan, Maskun menjilati pentil tetek adiknya yang masih mungil itu.
“Kenapa Bang?” tanya LInda tiba-tiba terbangun.
“Sudah tidur saja…” Mskun setengah membentak.
“Hmmm…” adiknya merengek dan memeluk Maskun. Maskun tyerus menjilati dan mengisa-isap pentil tetek adeknya. Sebelah tanganya mengelus-elus memek Linda yang belum berbulu.
“Hhmmmm….” Linda kembali dengan manjanya.
Kemanjaan Linda itu, membuat Maskun semakin bernafsu. Dia terus menjilati tetek adiknya dan mengelus-elusnya samopai akhirnya Maskun dapat menjilati memek adiknya.
“Hhhmmmm…..” Linda kembali mendehem manja dan menjepit kepala Maskun dengan kedua kakiknya. Maskun terus menjilatinya.
“Bang… aku mau pipis….” kata Linda manja. Maskun diam saja tak menghentikan jilatannya pada memek Linda, sampai akhirnya menjepit lebih kuat lagi kepala Maskun
Setelah jepitan melemas, Maskun mengangkangkan kedua kaki adinya dan menekankan penisnya ke memek Linda. Saat ditekan, Linda menjerit di tengah malam di tengah hutan itu.
“:sakiiiiiiitttt,” katanya. Maskun yang kesetenan tidak perduli dan terus menekan sampai semuanya masuk ke dalam. Menahannya sejenak dan Linda masih terus menangis. Perlahan Maskun mengocok penisnya dan Linda pun mereda tangsisnya sampai Maskun juga melepaskan spwermanya.
Mereka pun tertudr pulas malam itu, sampai matahari meninggi menusuk mata, baru mereka terbangun. Cepat Maskun mandi dan bersih diri lalu memasak makanan untuk mereka. Di bopongnya adiknya turun dan mereka duduk berdua.
“Percayalah besok atau lusa, pasti datang bantuan, karena inibencana,” kata Maskun. Dia pun beru[paya membuat tenda darurat untuk mereka berdua. Setelah Maskun meneliti sampai 300 meter, Maskun mendapatpi banyak barang-barang yang isa dimanfaatkanya. Dia mengerti, kalau bencana ini sangat besar. Diambilnya sebuah radio kecil dan beberapa buah battery. Di bersihkannya radio itu, sampai diperiksa sedetil mungkin, karena dia adalah mahasiswa D3 elektronika. Akhirnya radio itu bisa dipakai dan mereka mendengar berbagai berita, tahulagh mereka, kalau mereka korban Tsuanmi.

Maskun mendapatkan Bethadine bebeapa botol dan verban serta obat-obatan yang biasa dijual tanpa resep atau obat yang bisa dijual bebas. Ada sabun dan berbagai keperluan. Mancis dan korek api dia jemur dan beberapa mantel hujan dia temuka juga. Mereka pun bertahan di tepian anak sungai itu. Sudah dua hari, belum juga ada bantuan. Tapi pakaian mereka sudah kering dan sudah bersih dicucui, terutama pakaian dalam.

“Apakah kita akan mati disini?” tanya Linda.
“Tidak. Pasti tidak. Makanan kita cukup. Bila dua hari ini kamu sudah bisa aku tuntun, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini,” kata Maskun. Linda merasa sedikit nyaman. Dia berpoikir, andaikan saja dia terdampar sendiri, siapa yang bisa menolongnya. Andaikan dia terdampar dengan orang lain, dia juga akan…

Linda mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Maskun menjilati teteknya dan mengelus-elusnya serta memeluknya dengan kasih sayang. Tapi LInda sebaliknya justru merasakan kehangatan. Mereka memang saudara yang sangat akrab. Mereka lebih akrab dibandingkan dengan empat saudara mereka yang lain. Beda usia mereka walau terpaut enam tahun, namun mereka seperti demikian bisa saling mengerti.

Untuk pertama kali Linda berciuman dengan lembut. Tidak seperti pacvar Linda yang bernama Johan yang selalu menciumnya dengan tergesa-gesa, kemudian jika sudah puas, Johan seperti tidak perduli padanya. Beda dengan Maskun, dia sabar mengelus dan membelai Linda. Sabar menciumi leher dan menjilati sekujur tubuhnya. Mereka sudah mendapatkan banyak kain yang sudah bersih dicuci dari barang-barang yang dibawa ombak. Mereka sudah dapat bahkan tiga buah selimut tebal. Semuanya sudah komplit, walau disana sini banyak yang robek.

Yang membuat Linda tak mampu membantah ucapan Maskun agar mereka bertahan dua atrau tiga hari lagi dengan perbekalan mereka yang cukup, saat Linda masih mengingat bagaimana ujung lidah Maskun menjilat-jilat vaginanya. Vagina yang berbulu tipis itu dijilati dengan lembut, membuat Linda terangkat-angkat tubuhnya.
“Udaaaaa…..” kata Linda mendesah-desah dan meremas-remas kepala Maskun.
“Uda apain memekku?” tanya Linda. Maskun justru tak menjawab, karena dia yakin itu adalah pertanyaan basa-basi saja, toh jilatannya tetap dinikmati oleh Linda.
“Enak?” tanya Maskun.
“Iyooooo…..” jawab Linda melemas dan menghentikan jepitan di kepala Maskun. Saat itu, Maskun justru menguakkan kedua pahak adiknya itu lebar-lebar dan menempelkan ujung kontolnya ke antara dua bibir memek Linda adiknya itu.
Perlahan Maskun menekannya. Linda mengigit bibirnya menahan sakit.
“Sakit Uda….” kata Linda merintih.
“Tahan sebentar sayang. Aku menyayangimu. Tak mungkin aku mencelakakanmu, sebentar lagi pasti enak.” kata Maskun.
“Tapi kita saudara. Kita tak boleh melakukan ini,” kata Linda.
“Kita sudah terlanjur…” kata Maskun. “KIta teruskan sama tidak kita teruskan, dosanya sudah sama,” jawab Maskun.
Sreeeg.. terasa seperti ada suara yang robek di dalam memek Linda. Linda menjerit. Cepat Maskun mengecup bibir adiknya dan kembali menekan kontolnya ke dalam dan Linda kembali menjerit. Maskun menahan kontolnya di dalam memek adiknya itu. Linda pun menanngis menahankan rasa perih dan sakit.

“Sabarlah, sebentar lagi tak sakit,” katanya. Maskun pun menarik perlahan kontolnya dan perlahan kembali menusuknya, demikian seterusnya, sampai satu hentakan kontolbnya dia tahan sepenuhnya ke dalam memek adiknya itu.

Maskun terus membelai rambut adiknya dan mengecup pipinya, serta mengecup bibrinya.
“Aku menyayangimu,” katanya lembut.
“Kalau aku disayangi, mkenapa harus begini?” kata LInda.
“Ini bagian dari rasa sayang yang teramat dalam,” kata Maskun merayu.
“BIla aku hamil?”
“Kita akan pindah dari pulau ini dan kita minta surat keterangan pindah. Aku dari desa sebelah dan kamu dari desa kita dan kita akan menikah di tempat lain, kata Maskun. Sambil berbicara merqyu adiknya, maskun perlahan terus mencucuk tarik kontolnya dan Linda sudah mulai menikmatinya. Mereka sudah berpelukan dan maskun terus menjilati leher Linda dengan kasih sayangnya.

“Sudah lama aku mencintaimu, bukan sepwerti adikku, tapi aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Maskun sembari terus memeluk adiknya dan menekan jauh kontolnya. Linda juga memeluknya dan kehangatan sperma dalam memek Linda demikian nikmatnya. Setelah kontol Maskun keluar dari memek Linda, Maskun mencium pipi adiknya dn mengucapkan tyerima kasih dan mengucapkan rasa cinta. Linda membalasnya dengan kecupan pula.

Setelah dua hari, mereka mendengar suara heli kopter menderu-denru. Linda berteriak minta tolong. Heli terlalu jauh di atas sana, hingga tak mendengar suara teriakannya. Maskun mengikat kain merah pada sebuah tongkat kayu dan emminta kepda Linda untuk melambai-lambaikannya. Sementara Maskun mengumpulkan ranting dan daun kering. Begitu heli kembali terdengan meraung, dimintanya LInda melambaikan bendera itu, dan Maskun membakar tumpukan ilalang dan daun kering serta rantint-ranting kayu, hingga asap menggepul.

Heli mulai mendekati mereka dan semakin merendah. Linda tersenyum bahagia demikian juga Maskun. Dari atas heli turun seorang tentara dan setelah sampai di bawah, dia mendekati Maskun dan Maskun menjelaskan, mereka adik-beradik yang terdampar dan selamat. Tentara itu mengikatkan tali ke tubuh LInda dan Maskun yang sudah tersedia, kemudian dengan alat radio tentara itu meminta agar metreka ditarik. Bertiga mereka ditarik oleh tali dan dua orang tentara yang ada dalam heli menarik mereka masuk. Salah seorang di antara tentara itu langsung memeriksa luka Linda sembari terbang, kemudian memberikan suntikan dabn pengobatan.

“Kanmu hebat bisa bertahan,” kata tentara itu. Mereka terbang dan dari ketinggian Linda Maskun melihat desa mereka nun di bawah sana sudah porak poranda. Linda dan Maskun melelehkan air mata, memikirkan bagaimama ibu-bapa dan saudara mereka. Pada sebuah lapangan Maskun dan Linda diturunkan dengan penumpang yang lain, kemudian mereka di bawa ke pengungsian yang dilayani oleh sukarelawan. Saatr Linda istirahat, Maskun mencari tahu keadaan orangtua mereka. Tak ada keluarga mereka yang selamat. Maskun tercenung dn kembali ke kamp pengungsian serta menceritakan kepda Linda yang sudagh diganti pakaiannya dan mendapat jatah pakaian lain. Berdua mereka berpelukan.

“Apakah ini istri saudara?” kata salah seorang petugas.
“Ya Pak. Kami pengantin baru. Tapi mai tidak punya identitas apa-apa lagi,” jawab Maskun.
“Nanti kita akan keluarka identitas pengganti berupa duplikat,” kata sang petugas. Maskun tersenyum. Untung ketika dia pulang ke kampung halamannya, di tempatnya bekerja dia juga pamit dan mengatakan, mungkin saja dia akan dinikahkan di kampung halamannya. Bagaimana perjalana selanjutunya….

Kenapa Uda mengatakan, kita ini suami isteri? Tanya Linda kepada Maskun. Maskun diam saja. Dia berupaya untuk mendapatkan ibu dan ayah mereka. Linda puin mempertanyakan kembali kenapa Maskun mengatakan kepada petugas, mereka adalah suami isteri?
“Supaya kita tidak dipisahkan. Nanti kalau kita ketemu dengan orangtua kita, baru kita bersama dengan

mereka dan kita kembali seperti biasa, kakak dan adik,” kata Maskun. Mereka menemui petugas dan meminta daftar nama-nama yang selamat dan tidak selamat. Dalam daftar yang selamat tak ada nama ibu, bapak dan saudara mereka. Dalam daftar nama yang meninggal dunia, ada nama ibu dan bapak mereka, tapi tak diketahui nama adik atau saudara mereka. Mereka berupaya terus mencari dan mencari. Kemudian mereka menukan ayah dan ibu mereka persis ketika masu dimakamkan. Jenazah yang sudah membusuk dan bau. Linda dan Maskun hanya bisa menangis dan ikhlas.

“Aku gak mau berpisah,” kata Linda pada Maskun.
“Aku juga tak ingin kita berpisah,” kata Maskun,. Mereka menemukan beberapa teman-teman mereka sekampung yang mendaftarkan diri untuk direlokasi ke daerah lain. Hanya ada beberapa orang yang mau. Seperti Sanusi dan Yati, mereka juga mengakui sebagai suami isteri, agar tidak dipisahkan dalam relokasi tempat. Akhirnya mereka mendapat surat keterangan dan duplikat surat nikah.

Setelah semuanya siap dan dianggap kesehatan fisik dan mental mereka sudah baik, ke dua pasang bersaudara itu pun naik ke kapal untuk ikut relokasi ke daerah transmifrasi yang baru dibuka kembali, karena banyak peserta transmigrasi terdahulu melarikan diri dari tempat mereka.
“Kita tidak akan berpisah, kan?” tanya LInda sangat manja. Maklumlah, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Maskun juga sangat memanjakannya. Demikian juga dengan Sanusi dan Yati. Bersama mereka mengharungi lautan selama tujuh hari dan singah sebentar di pelabuhan tertentu. Sanuni adalagh adik Yati. Beda usia mereka berkisar empat tahun. Mereka juga sudah tidak punya siapa-siapa sama seperti Maskun dan Linda.

Sesampainya di daerah baru itu, mereka mendapatkan rumah yang berdekatan yang isinya sudah dilengkapi dengan sederhana. Ada kantongan beras berisu 20 Kg dan peralatan dapur setrta peralatan pertanian. Mereka samapa-sama memasuki rumah baru. Sorenya Yati mendatangi Maskun mempertanyakan status mereka. Maskun menjelaskan, daripada mereka dipisahkan, lebih baik mereka menikah saja, walau saudara sekandung. Toh tidak ada yang tau.
“Jadi kamu akan memperisteri Linda?” tanya Yati. Sejanak Maskun menatap Yati. Lalu menganguk, agar mereka tidak berpisah.
“Bagaimana dengan aku?” tanya Yati. Maskun diam saja. Tak lama Sanusi pun datang bergabung di halaman rumah Maskun dan berdiskusi.
“Semua karena terpaksa, semoga kita bisa hidup dengan baik dan kita beranak pinak. Rahasia ini, kita jaga sebaik mungkin,” kata Maskun. Sanusi setuju. Lalu Linda pun datang dengan kemanjaannya, memeluk Maskun.
“Nih.. masih sangat muda usia, sudah siap,” kata Maskun. Sanusi pun memeluk kakaknya itu dengan mesra dan membimbingnya ke rumah mereka.

Baru pukul 21.00 kampung transmigrasi itu sudah sepi. Bantyak lampu sudah padam dan siaran radio tak terdengar lagi. Maskun dan Linda pun memasuki kamar mereka dan memasang kelambu agar terhiondar dari nyamuk. Mereka tidur berpelukan pada udara dingin dengan seng sebagai atapo rumah tanpa asbes, membuat udaranya semakin dingin. Dalam berpelukan itu, mereka berciuman dan mereka slaing memagut. Dalam kegelapan, Maskun menelanjangi Linda dan mereka berbugil bersama.

“Udaaaa…. ” Linda merengek menikmati jilatan Maskun. Pentil tetek yang dijilat-jilat da dielus-elus, membuat Linda benar-benar terangsang.
“Ayolah uda, dimasuki saja. Tolonglaaaahhhh…” Lionda sudah merengek minta dimasuki. Perlahan Maskun menaiki tubuh LInda dan menekan penisnya memasuki lubang Linda yang tentu saja masih sempit. Mereka berdua suami isteri, baik dalam surat maupun dalam kenyataannya.

Esok paginya, Maskun keluar rumah membawa alat pertaniannya didampingi oleh Linda. Tak berapa lama Sanusi ikut pula dari belakang. Saat Maskun melirik ke belakang, dia melihat rambut Sanusi dan Yati benar-benar basah, sama sepertyi rambutnya dan adiknya Linda. Mskun sengaja menunggu mereka dan dengan senyum Maskun mengatakan:”AKu yakin, tapi malam kelian tidur dengan nyanyak,” sindir Maskun.
“Aku juga yakin, kalau kamu dan Linda juga tidur dengan pulas,” kata Yati yang mengerti kemana arah percakapan Maskun. Mereka pun tertama sembari menuju perladangan yang diberikan kepada mereka seluas dua hektar.

Maskun sesampainya di ladang, langsung membangun dangau-dangau yang agak tinggi, agar terhindar dari binatang melata. Tiangnya berkiar setinggi 1,7 meter dari permukaan tanah. Selain itu, dia bisa melihat juga ke sekeliling tanah mereka. Selesai membuat dangau, Maskun mulai mengarap dan mencangkoli tanah yang dekat dengan dangau atau gubuk tingginya itu. Mereka harus bisa hidup dari perladangan itu, karena hanya selama dua tahun mereka mendapat jatah dari pemerintah.

Katika daun jagung menghijau di tanah yang subur, dari gubuk Maskun mulai mendengar suara mual dan muntah-muntah Linda. Dia mendatangi Linda. Kejadiannya sama sepeti yang dialami Yati. Linda hamil, sama seperti Yati. Maskun pun semakin menyayangi Linda, demikian juga sebaliknya.
Habis…
Post Title : Ketika Tsunami Terjadi

Ketika Tsunami Terjadi,

Ketika Tsunami Terjadi

0 komentar

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.