Simpang 5....

Tahun 1997 adalah tahun-tahun keperkasaanku, dimana saat itu aku masih berusia 25 tahun dan banyak gadis-gadis menunggu giliran apelku tiap malam minggu. Aku sendiri sekarang sudah berkeluarga, mempunyai seorang putra yang berumur 4 tahun.

Cerita ini dimulai saat aku mengambil cuti tahunanku selama 1 minggu dalam rangka refreshing setelah aku berhasil mengerjakan proyek berskala besar untuk perusahaanku. Perjalanan kuawali dari kota Surabaya dan tujuanku adalah Semarang. Semarang adalah kota wisata dan juga kota esek-esek, seperti juga Surabaya yang juga memberikan segala macam keinginan, style, daun-daun muda ataupun keromantisan suasana. Anda akan terpuaskan disana. Akan tetapi petualanganku kali ini menghasilkan sensasi luar biasa dengan seorang tante dan mahasiswi yang juga callgirl.

Turun di Stasiun Tawang, aku naik taksi menuju kawasan yang 3 tahun lalu kutinggalkan. Tujuanku adalah menjemput Santy, seorang callgirl. Semasa aku kuliah dulu, aku menjadi bodyguard-nya.

Tepat pukul 4 sore, aku menginjakkan kakiku di stasiun Tawang. Aku lantas menuju taksi dan kuperintahkan ke arah sebuah kawasan kost mahasiswi di Sampangan, tujuanku adalah melepas kangenku dengan Santy seorang mahasiswi perbankan. Santy adalah mahasiswi tingkat akhir yang juga gadis panggilan papan atas. Namun ada juga lelaki yang beruntung seperti aku dapat menikmati tubuh indahnya secara gratis, hanya dengan imbalan mengantar dan menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Atau barangkali aku ini dianggapnya bodyguard.

Singkatnya, aku sudah sampai di tujuan pertamaku, perlahan namun pasti kumasuki pekarangan rumah kost itu, kulihat hampir tidak ada perubahan disana. Sebagai tambahan informasi, bahwa rumah itu memang kost-an mahasiswi di lingkungan kampus sekitar situ dan penghuninya ada juga yang punya second job atau bahkan berprinsip free love jika anda beruntung.

Tampak olehku sepasang kursi kayu di sudut taman depan rumah telah diganti dengan yang baru, atau barang kali hanya di cat ulang.
“Ah persetan..” makiku dalam hati.
“Ting.. tong… ting tonggg..” suara bel setelah kutekan sambil kudekatkan wajahku ke kaca Ray Band melihat siapa gerangan yang akan datang.
“Huu…. Yess..!” teriakku kegirangan saat melihat yang datang ternyata seorang mahasiswi dengan celana jeans potongan tepat di bawah lipatan pahanya dan berkaos singlet coklat bermotifkan bunga-bunga keemasan.
“Mau cari siapa Mas..?” tanya gadis itu ramah.
“Emmh.. Santy ada..?” jawabku.
“Santy sudah pindah lama Mas.. nggak tahu pindah kemana tuh. Silakan masuk Mas..!” sambung gadis itu sambil mempersilakanku masuk.

Kami terdiam sejenak, lalu sesaat kemudian, “Eh iya nama Saya Yanto.” kataku sambil mengulurkan tangan dan aku mendapatkan respons dari gadis itu.
“Saya Yuni.” sahut gadis itu, “Emang Mas ini..?” selidik Yuni.
“Yach Saya kawan lama…” sahutku singkat dan kami pun terlibat basa-basi dan akhirnya Yuni menawarkan minuman segar kepadaku.

Aku pun terbiasa dengan suasana rumah itu termasuk dengan yang punya, karena orangnya memang sangat liberal. Agak lama Yuni belum juga muncul, akhirnya aku menyusul ke dapur, akan tetapi aku kaget bukan main saat melewati ruangan tengah. Ruangan itu kini tertata lebih rapih dengan dua sofa besar serta TV, lengkap dengan VCD dan home theaternya, lebih-lebih saat aku menyaksikan film di layar gelas tersebut yang ternyata adalah film “XXX”. Cepat-cepat aku menghempaskan pantatku ke sofa.
“Eh.., Mas Yanto.. mau minum dimana nich..?” tanya Yuni enteng.
“Enakan disini saja sambil lihat film…” sambungku sambil menenggak minuman segar beraroma jeruk.
“Dari pada bengong Mas.., khan pada pulang kampung semua.” Yuni mencoba membela dirinya.

Setelah ngobrol cukup lama, akhirnya aku memasang umpan, karena aku takut Yuni bukan gadis sembarangan.
“Emmm.. kenapa nggak pulang kampung..?” tanyaku.
“Males ah..” sahut Yuni kecut.
“Males apa males..?” godaku.
“Eehhh.. ngeledek.. yach.. tak kasih.. baru tahu rasa.” ancam Yuni.
“Kalo dikasih kehangatan, Aku mau…” jawabku ngawur.
“Ehemm..” sindir Yuni.

Kami pun akhirnya terdiam beberapa saat, namun aku termasuk cowok tanggap dan berkesimpulan dari pada cari Santy jauh-jauh atau tidak ketemu, Yuni boleh juga pikirku. Tubuhnya proporsional dan kulitnya putih mulus, rambutnya tergerai indah seperti gadis-gadis sunsilk, pahanya bukan main, kecil, bulat, pasti bertenaga turbo.

Aku dan Yuni masih terpaku menikmati Blue Film tersebut, nafas kami sudah terdengar terengah pelan, dan aku melihat perubahan air wajah Yuni yang memerah menahan birahi. Sikapnya sudah gelisah dan mengigit bibir bawahnya. Waktu berlalu, akhirnya kami terdiam. Bagian depan celanaku terasa penuh sesak karena penisku sudah mulai mengeras dan terasa sedikit sakit, karena bulu-bulunya ikut tertarik. Aku beringsut dan dengan acuh aku membetulkan posisi penisku agar lurus, dan Yuni melirik ke arah tanganku.

“Mau dibantu Mas..?” goda Yuni sambil beringsut mendekatiku.
“Boleh..,” jawabku enteng dan mempersilakan Yuni membuka zipper celanaku.
Dan sekejap kemudian, menyembullah tongkat kenyal kebanggaanku itu karena aku tidak mengenakan celana dalam (kebiasaanku sejak dulu).
“Woww..! Panjang banget Mass…” pekik Yuni perlahan saat menimang-nimang daging hangat nan kenyal yang sebentar lagi akan membuatnya terlena dan membuatku semakin terengah.

Aku menyandarkan diriku di sofa, darahku sudah berdesir kencang saat kucium harum parfum Yuni, tubuhku mulai menghangat. Kuraih pundak Yuni dan kusambut bibirnya, kukulum bibir bawahnya, lalu pindah ke lehernya.
“Hmmmhh..” semerbak harum lehernya menambah keras penisku di bawah sana.
Aku merasakan kehangatan dan kelembutan menjalar mulai dari kepala penisku, rupanya Yuni sudah mulai melakukan permainan blow job-nya. Ooohh, betapa lembut kuluman bibirnya, hangat dan halus menggelitik di kepala penisku, lidahnya dipatuk-patukkan ke lubang penisku, membuatku semakin kelojotan dan dengan tak sabar aku melepas jeans-ku dibantu Yuni.

“Aaahhhg.., lega..!” kataku.
Penisku kini sudah bebas mengacungkan diri dan berdenyut teratur sepanjang urat nadi disana, dan kubuka pahaku lebar-lebar. Kepala Yuni kini mengangguk-angguk teratur, mengeluar-masukkan kuluman bibirnya yang sedikit melebar namun tetap tebal sensual. Rambutnya digeraikan ke pundak kirinya dan bergelayut di kedua bukit kenyalnya. Aku meraih rambutnya dan membimbing kepalanya di antara kedua pahaku, sehingga kini Yuni lebih bebas berekspresi dan lebih dalam lagi penisku memasuki rongga mulutnya.

“Hmmmhh.., oookhh..,” guman Yuni disela-sela kesibukannya mengocok penisku.
“Aaakkhhh… sshhh.. ookhh nimath.. Yunnnn..” aku terpekik kala Yuni mulai memainkan kedua telorku dan mengigit-gigit kecil seperti bayi kebesaran dot-nya.
Yuni menjilat sepanjang bagian bawah penisku, lantas berhenti sejenak tepat di bagian bawah kepala penisku. Rupanya ia tahu bahwa disana lah semua syaraf birahiku berkumpul. Mulutnya dibuka lebar-lebar dan kedua bibirnya membentuk “O”. Aku terpana sejenak, apa yang hendak dilakukannya.

“Aaawww… sshhh … aaaghh…” desisku saat lingkar kepala penisku ia putar mengelilingi bibirnya.
Geli, nikmat dan seluruh penisku terasa bergetar kencang karena spermaku sudah mulai mendesak keluar. Aku tegang dan mendesah tidak karuan, tidak tahan dengan permainan Yuni. Kurebahkan tubuhku dan kugeser pantatku mendekati dada Yuni. Aku tidak mepedulikan lagi kepuasan bagi Yuni, pokoknya perjalanan jauhku semalam harus tuntas saat ini juga dan tampaknya Yuni tahu akan hal itu, atau entah pengaruh blue film yang kami saksikan bersama. Dengan tergesa-gesa kubuka t-shirt-ku, lalu kulempar entah kemana, karena aku ingin segera melepaskan rasa letihku dengan semburan-semburan spermaku yang kental.

Denyutan di ujung penisku semakin tidak teratur saat Yuni mulai meningkatkan tempo permainan dan variasinya. Tubuhku tegang sekali, seluruh aliran darahku terasa mengumpul semua di otakku. Dan mendekati sepuluh menit berlalu, aku merasakan seluruh aliran darahku turun cepat dan deras menuju ke selangkanganku.
“Ookkhhh, Yunnn.. sshhh.. hisap.. cepatttth.. Yang..!” pintaku sudah tidak sabar saat bibir Yuni menyusuri dan menjilat-jilat ruang di antara telor kemaluanku dan anusku.
Lama lidahnya dimainkan disana dan sesekali mematuk ke bagian depan duburku, sementara tangan kirinya teratur mengocok batang pejalku.
“Ayo Yunnn..! Hisssaappphh..!” pintaku sambil menarik kepala Yuni ke arah ujung penisku.

Nafsuku sudah tidak dapat kubendung ketika Yuni menghisap dalam-dalam ujung penisku. Darahku meluncur secepat kilat ke arah ujung penisku.
Tubuhku hangat nan bergairah, lalu sejenak nafasku terhenti beberapa detik dan, “Aaakkhh.. ssshhh.., oookkkhhh.. Yunnn..!” teriakku keras, melepas semburan-semburan spermaku sambil kutegakkan tubuhku untuk menambah sensasi yang ada.
“Crot.., crotth…” spermaku deras terasa terhisap memenuhi rongga mulut Yuni dan entah berapa kali semburan.
“Aaah… thanks Yun…” kataku sambil merebahkan tubuhku ke sandaran sofa.

Dengan telaten dan sabar, Yuni menghisap sampai habis dan menjilat sepanjang batang penisku hingga terasa kesat. Aku melihat ada beberapa tetes spermaku yang mengalir di sudut bibir Yuni yang tebal dan seksi itu. Lega dan ringan rasanya, akan tetapi belum sempat kumenikmati istirahatku, aku terkejut saat Yuni kembali menaiki tubuhku dan mendaratkan french kiss-nya. Bau spermaku yang khas dari mulut Yuni dan gesekan vagina Yuni di penisku membuat gairahku bangkit seketika. Kali ini kurasakan jeans pendek Yuni lembab, pertanda banyak mani menetes dari vaginanya, dan rupanya dia terangsang juga melihatku ejakulasi.

Aku harus tahu diri, ini adalah ronde milik Yuni yang kini meregang nafsunya di atasku. Lalu cepat-cepat kubalikkan posisi kami dan Yuni ada di bawah. Aku lepas jeans pendeknya, wow.., rupanya Yuni juga sehobby denganku, tidak senang memakai CD. Lalu kaos singletnya hanya kusibakkan sebatas kedua bukit kenyalnya yang tanpa BH. Karena agak kesulitan dengan posisi konvensional, maka kali ini Yuni kududukkan di Sofa dan kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Yuni sendiri mulai membuka singletnya, lalu mencampakkannya di meja.

Kepalaku kudekatkan ke arah vaginanya dan Yuni rupanya sudah sangat bernafsu, karena dengan cepat-cepat kepalaku dibenamkannya dalam-dalam di vaginanya. Aku nyaris kehabisan nafas, akan tetapi saat lidah mulai mengitari bibir minora-nya ia tidak kuasa menahan geli, lalu mendesah sambil membuka lebar-lebar pahanya.
“Aaahhhgghh.., Maassshh.., hisaapphh.., nngggghh.. nnggghhh..” pinta Yuni, matanya terpejam dalam merasakan nikmatnya aliran udara hampa yang mengalir dari sudut rahimnya.
Aku juga merasakan mulut vaginanya berdenyut saat kuberhenti menyedot.
Mulutku tetap pada liang sanggamanya, dan beberapa lelehan mani yang mengalir tersapu oleh lidahku.

Tubuhnya bagai orang kepayahan dan pasrah bersandar pada sofa, kedua putingnya ia pelintir sendiri. Dalam kondisi begitu, tampaklah olehku inner beauty seorang Yuni. Wajahnya mengharap, memelas, merintih, pasrah dan wajah nafsu menjadi satu. Aku mengambil kedua pahanya yang bulat mulus, kuletakkan di kedua pundakku. Setelah itu kedua tanganku menggantikan tangannya untuk kerja di “penghalusan” kedua putingnya.

Kini kedua pahanya bertumpu pada kedua pundakku, hal ini memudahkan aku menjilat, menghisap dan mematuk dengan lidahku pada klitoris-nya, hingga tubuh Yuni kelojotan. Nafasnya terengah, kedua tangannya mencengkeram erat sofa pada saat yang bersamaan, kukombinasikan dengan pelintiran kedua putingnya. Tubuhnya yang mulus itu kini oleng, kadang terduduk, suatu saat pasrah tergolek lemah sambil mendesis, kemudian kedua bibirnya ia katupkan sendiri dan sesekali ia gigit bibir bawahnya sendiri. Vaginanya pasti terasa ngilu dan geli sekali, juga bercampur birahi, sehingga ingin segera ada sesuatu kekenyalan dan kehangatan penis yang menyumpalnya dengan cepat. Maninya semakin deras kurasa alirannya di lidahku, namun aku tidak peduli. Kukecup, lalu kuhisap dalam-dalam vaginanya hingga semua yang ada di mata air maninya mengalir deras diikuti gelinjang tubuhnya.

“Akkkhhh… ssshhh… sedottthhh.. terussshhh..!” desah Yuni sambil mempertahankan kepalaku di selangkangannya.
Aku tidak keberatan dengan permintaannya, karena disamping vaginanya legit, juga harum baunya dan terawat indah. Kini aku mengkombinasikan sedotan mulutku dengan permainan telunjuk kananku di klitoris-nya. Tubuhnya tersentak-sentak, seirama dengan tusukan telunjukku di leher rahimnya. Telunjukku kuputar-putar lembut disana dan kadang aku tekuk untuk menyentuh G-spot-nya. Dan pada saat bersamaan, G-spot-nya tersentuh, Yuni tersentak dan menggelinjang bagai terkena strum tegangan tinggi.

“Oooomhhh.. mmmpphhh.. mmm.. masssukin Mass..! Ceppath..!” pinta Yuni sambil berdiri, lalu memposisikan diri dengan posisi doggy style.
“Rupanya ini posisi favoritnya.., kena Kau..!” makiku dalam hati sambil kubelai lembut seluruh punggungnya, pinggulnya dan kepalaku kuturunkan ke pinggulnya.
Kudekatkan wajahku ke anusnya. Kujulurkan lidahku mengitari anusnya, sementara kedua tanganku meremas-remas manja kedua bukit kenyalnya.
“Agghhh… mmmppphhh… ooohhhghghh…” Yuni hanya bisa mndesah kuperlakukan demikian.
Tubuhnya bergelinjang hebat dan sudah tidak sabar untuk kumasuki dalam-dalam liang kewanitaannya

Setelah puas bermain di anusnya, tangan kiriku membelai pinggulnya dan kupegang penisku dengan tangan kanan. Perlahan kuletakkan di mulut rahimnya yang memerah basah itu, kusibakkan labia myora dan minora-nya dengan kepala penisku nan lembut dan hangat.
“Emmmpphhh.. oookkkhhh..!” desah Yuni.
Tampaknya pengaruh kehangatan penisku mulai bekerja. Perlahan namun pasti, kumasukkan centi demi centi dan tiba-tiba Yuni menghentakkan pinggulnya keras ke belakang diikuti dengan menggoyang putar pinggulnya.
“Aaakhhh…” pekik kami bersamaan saat hentakan itu tadi.
“Sleeppprrttt..,” 15 cm batang pejalku telah mengisi rongga rahimnya yang rindu akan kocokan, gesekan dan juga kehangatan penis. Bersamaan itu pula Yuni menjerit lirih sambil mendongakkan kepalanya, rambutnya yang panjang itu ia geraikan ke samping kiri lehernya.

“Ooookkhh.. nikmathh… emmmpphhh.. ssshh…” Yuni mulai ceracau tidak teratur.
Yuni mulai dikuasai nafsunya, sebagai perempuan ia hanya ingin kepuasan saat itu. Ingin segera menumpahkan maninya banyak-banyak untuk melumasi penisku dan menghangati diding vaginanya. Aku mengatur posisi untuk menstimulasi G-spot-nya. Dengan perlahan namun pasti, kukocok penisku keluar masuk. Aku melihat labia minora-nya ikut tersembul keluar saat penisku kutarik keluar, demikian pula kulihat labia mayora-nya ikut amblas saat kumasukkan penisku dalam-dalam.
“Ookkkhh… kocokhh.., terusshhh… iya.. iyaa… lebih kerasshhh… oohh nikmathhh..!” Yuni mulai menggumam.
“Lebih kerassshhh… yach… yach… oohhhgghhhk..!” Yuni semakin tidak mampu menahan hawa panasnya yang mengalir, dan hawa itu bersumber dari penisku yang terasa penuh menjejali ruang vaginanya.

Sementara itu ia aktif menggoyang pinggulnya, dan kedua tangannya berpegangan pada sandaran sofa. Lalu sesekali ia sentakkan pingulnya ke belakang untuk menambah rasa penetrasi dalam-dalam. Lima menit berlalu, lalu kumulai membantu Yuni menggapai sorgawinya dengan stimulasi di kedua putingnya dengan pelintiran jempolku. Kupilin-pilin, lalu kutarik dan kemudian kulepaskan.
Setiap saat kulepaskan itulah Yuni melenguh panjang, “Oookkkhh.., genjotthh.., dalammhh.. oookhhh..!” ceracau Yuni tidak karuan.
“Maaasshhh.. sss… nggghhh.. ssshh..” desis Yuni kehabisan kata-kata.

Sementara kocokanku kuatur dengan tempo pancingan, yaitu memancing birahinya agar memancar keluar dari rahim dengan segera. Dengan cara mengocok 3/4 batang penisku dengan tempo cepat, dan sekali kocokan kubenamkan dalam-dalam sampai ujung kepala penisku mentok menggelitik dinding atas rahimnya. Hal itu pun kurasakan juga saat ujung kepala penisku menyentuh mentok pada leher atas rahimnya, rasanya ngilu, geli dan hangat. Dan saat itu lah yang membuat tubuh Yuni tegang sesaat kemudian.
“Nggghhh… eeghhh… ooohgghhh.. eenggghh… aaaghhh..!” Yuni terengah mengekspresikan orgasmenya yang sebentar lagi menjemput.
Tempo permainanku tidak kuubah sampai Yuni betul-betul menggapai orgasmenya, dan aku tetap mengatur irama nafasku, menyebabkan tempo permainan kami terasa lebih lama.

Kira kira 20 menit kemudian, tubuh Yuni menegang lagi. Kali ini ia melepaskan pegangan tangan kanannya dari sofa dan membelai rambutnya sendiri. Tubuhnya ia miringkan melihat ke arahku yang lagi sibuk menanamkan penisku. Bibirnya yang sensual itu terbuka lebar, melepas desahan nafsunya, matanya terpejam dan sesaat kemudian ia terlihat menjambak rambutnya dan tubuhnya oleng.
“Aaakkkhhh… aaakhhh… oookkhhh… ssshhh… nikmattthhh…” Yuni mengawali orgasmenya dengan diiringi goyangan pinggulnya.
“Oookkh… masukin yanggh.. dall… lammmhhh..!” pinta Yuni.
“Maaasshhh… nikmaaatthh..!” desis Yuni yang kini mempercepat hentakan pinggulnya.

Sedetik kemudian penisku kembali tertanam dalam-dalam dan kubiarkan tetap begitu sambil kuputar pinggulku perlahan untuk menambah sensasi bagi Yuni. Yuni semakin tidak dapat menguasai dirinya dan berteriak.
“Ookkkhh… aaaghh… Massshhh… Akuu… mauuu… kellu.. arrr.. lagiihh… oookhh..!” Yuni kembali mendongak, menjemput orgamenya yang kedua.
Pahanya kali ini dirapatkan, sehingga gigitan vaginannya tambah terasa di penisku. Seluruh batang penisku terasa diempot-empot dan hangat menggelitik. Yuni juga pandai memainkan otot vaginanya, meski sambil berorgasme atau barang kali itu suatu pasangan saat orgasme.

Demikian pula yang ia rasakan, benda pejal hangat itu semakin terasa menggelitik rahimnya, keluar masuk, keluar masuk, dan keluar lagi panas membara.
“Aaaghghhh… oooaaaghhh.. ssshhh.. ssh… mmmpphh..!” teriak Yuni menyambut orgasmenya yang entah keberapa, serasa tiada henti baginya.
Desahan, teriakkan, dan ceracau Yuni yang tidak karuan itu membuat gerakanku kini tidak terkontrol dan terkesan lebih kasar. Aku ingin segera memuntahkan sperma kentalku dalam rahimnya dan saat menyemprot itu lah, akan kutanamkan dalam-dalam di rahimnya.

Belum aku berpikir, selanjutnya ujung penisku kini berdenyut lebih keras, dan hal ini dirasakan juga oleh Yuni.
“Ookkghh.. Masss.. shshhh.. kelll… luarrriin cepethhh.. nggghhh..!” pinta Yuni yang rupanya sudah mulai ngilu.
“Yuuunn..!” bisikku sambil mempererat pelukanku di punggungnya.
Kuciumi belakang telinganya, belakang lehernya, punggungnya, dan sesekali ketiaknya, membuat desahanku dan Yuni memenuhi rumah kost yang sepi itu menjadi hingar bingar.

Sepintas kutengok dan melihat adegan di blue film sama seperti kami, doggy style dan kubisikkan ke Yuni untuk mengatur posisi. Kami kini dapat menikmati film biru itu sambil berdoggy ria. Aku melihat si wanita di film mulai orgasme, tubuhnya kejang dan berteriak-teriak dalam bahasa mandarin. Saat itulah tubuh Yuni juga tagang dan aku merasakan aliran mani mengalir perlahan. Pinggulnya ia goyang lembut, kemudian perlahan-lahan menjadi goyangan yang binal tidak terkontrol.
“Aaakkkhhhfgggh.. oookkkhhh… mmmppp.. Massshhh… cepethhh.. kelllu.. arrgh.. Aku udah gell… lii..!” pinta Yuni.
Rupanya ia tidak tahan dengan gerakan yang dibuatnya sendiri.
“Baik Yun..! Terima yachh.. sppppermmaa… Ku..!” teriakku sambil memperdalam tusukan penisku dalam-dalam dengan kuputar-putar di mulut vaginanya.

Aku melihat si cowok film blue film juga tegang, wajahnya mendongak terlihat tegang sekali sepertiku, tusukan penisnya tidak lagi beraturan, demikian pula yang kurasakan.
“Tinggg… tonggg..!” bunyi bel itu mengejutkanku, dan dengan cepat Yuni mencabut gigitan vaginanya.
“Aaakhhh..!” pekikku tertahan saat bersamaan dengan itu.
“Sialan..!” makiku dalam hati.
“Sabar yach Mas Yanto..! Yuni udah puas khok… tuh ada kejutan datang.” kata Yuni sambil mengenakan jeans pendeknya sekenanya.
“Biar Aku yang bukakan, Mas nggak usah pakai tuh pakaian.. pokoknya ini permainan asyik..!” kata Yuni sambil ngeloyor menuju ke arah pintu.

“Sialan tuh perempuan..! Teteknya tidak ditutup lagi..!” gumanku kesal melihat Yuni tidak ber-BH membuka pintu.
Memang kost-kost-an itu letaknya di kawasan elit, pagar dan gerbang depan juga tinggi, sehingga Yuni berani berbuat demikian, apalagi suasana rumah sepi begini. Aku berjalan mengitari sofa dan menghempaskan tubuhku, tanganku mebelai lembut penisku yang masih tegak dan belepotan maninya si Yuni. Sambil kuelus, aku membayangkan apa gerangan rencana Yuni ini. Pikiranku terus melayang, dan akhirnya kuputuskan untuk mengambil celanaku.

“Eeiittthh.. tunggu duluu..!” sergah sebuah suara lembut melarangku meneruskan rencanaku.
Akan tetapi itu bukan suara Yuni yang kukenal beberapa jam lalu, akan tetapi, “Kenalkan Aku Anisa.. Aku Ibu kost disini.” kata seorang wanita setengah baya berpakaian resmi, mungkin dia wanita karier kali yah.
Aku terkejut setengah mati dan berusaha mengambil lagi celanaku.
Akan tetapi, “Eittt jangaan..! Khan udah Aku bilang nggak usah dipakai tuh baju. Aku juga mau tongkolmu yang besar and panjang itu.” sergah Anisa sambil membuka jas dan melempar tas kerjanya.
Wahh gumpalan payudara serta putingnya semakin kelihatan saat jasnya terlepas.
“36 yach..?” aku menebak dan menunjuk ke arah dadanya yang tak ber-BH.
“Eemmhh.. 36B tepatnya…” bisik Anisa seraya mendekatkan diri di sampingku.

Kuamati wajahnya, ada sedikit rasa lelah disana, akan tetapi tubuhnya yang fit itu tetap segar.
“Kamu nggak usah mikir itu Yuni, Dia udah maen tuh di ruang tamu sama Yudhi, pacarnya yang juga langananku.” kata Anisa menerangkan.
Pantes saja aku dengar sayup-sayup desahan Yuni dan Yudhi memacu birahi masing-masing.
“Emmmhh.. pantes! Lha orang Ibu kost-nya aja nafsunya kayak setan, apalagi anak kost-nya.” gumanku dalam hati.
“Eh.., kok bengong..? Mari Kita berpesta yuk..!” ajak Anisa sambil mengeluarkan sepotong viagra dan XTC.
“Aku percaya kemampuanmu… tapi lebih hebat kalo Kita juga fly sambil memuncratkan mani.” katanya ngawur.

Aku mengambil viagra itu dan kutelan habis, sementara ia meneggal XTC-nya itu. Batang kemaluanku yang sudah tegang, lima menit kemudian menjadi betul-betul keras. Anisa berjalan ke arah VCD dan menganti film-nya dengan making love party disco. Masih ada sisa 1 butir XTC, lalu kutelan lima menit kemudian, untuk mengimbangi fantasi Tante Anisa. Anisa tidak lagi kembali ke sofa, ia malah berdisco ria melepas satu persatu sisa pakaiannya sampai tubuh mungilnya kelihatan semua. Sampai pada suatu irama, ia tepat menghadap ke arahku dan membuka kedua pahanya, pinggulnya ia goyangkan memutar sambil memainkan otot vaginanya, sehingga bibir mayora-nya membuka dan vaginanya yang kelihatan pink itu mulai membasah.

Pintar sekali dia dan ia memulai pekerjaan tangannya. Pertama ia kulum itu telunjuk, lalu dihisap pelan-pelan seolah-olah sedang menghisap penis. Penisku semakin kencang saja melihat sensasi yang dibuatnya. Ia kemudian mengambil kursi bulat untuk dudukannya. Aku bangkit menghampirinya, akan tetapi kukaget bukan main, ternyata ia menolak dan memberi isyarat kepadaku untuk duduk sambil beronani ria.
“Sial..!” makiku dalam hati sambil beranjak menuju sofa.
Kupegang-pegang penisku, lalu kukocok sendiri perlahan mengikuti irama disco dan kukerjakan isyarat Anisa untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Aku hanya menemukan baby oil disana, lalu dengan satu kucuran sudah membasahi penisku. Gila fantasi Tante Anisa ini, betul-betul gila, akan tetapi aku menemukan sebuah nilai seks disana. Anisa mulai meringis saat telunjuknya memasuki vaginanya. Ia berdiri pada kaki kanan, dan kaki kirinya ia naikkan ke kursi bulat tadi. Desahannya tidak kudengar karena kalah oleh dentuman musik, namun aku menikmati fantasinya. Ia bermastrubasi ria sambil kutonton dan ia sendiri menikmati BF dari VCD Making love party yang ia nyalakan. Tangan kirinya mulai meraba payudaranya, kemudian diremasnya lembut dan dituntun ke arah bibirnya. Ia menghisap sendiri putingnya, sementara telunjuknya sudah kelihatan cepat keluar masuk tidak beraturan di liang rahimnya.

Kelihatan ia menggigit kecil putingnya, lalu ia kilir-kilir dengan kedua giginya. Sedetik kemudian ia mendongak dan memperdalam tusukan telunjuk di vaginanya.
“Aaakkgghghhh… mmmppphhh… oookkhh.. sshshhh… hhssshh..” Anisa mencapai orgasme rupanya.
Selesai, ia lalu telentang di karpet depan VCD. Kedua kakinya menghadap ke arahku. Anisa lalu membuka pahanya lebar-lebar dan meletakkan kedua telapak tangannya untuk memainkan vaginanya. Wajahnya tegang, kepalanya oleng kiri dan kanan dan bibirnya tak henti-henti mendesah. Ia lalu mengambil jari tengah tangan kanannya dan memasuki liang kenikmatannya.Tangan kirinya lalu merembet ke atas menjambak rambutnya sendiri.

Pengaruh XTC itu mempercepat datangnya orgasmenya yang kedua, gerakan tangan kanannya cepat tidak beraturan, menusuk liang rahimnya. Wajahnya terpejam dan bibirnya mendesis bagai ular.
“Oooggghhh… aaaghhhgghh…!” desah Anisa meregang orgasmenya.
Selesai itu, kemudian ia bangkit dan bergoyang erotis seirama rockndut dan kemudian berjalan ke arahku. Ia melepas dahaganya dengan menenggak air mineral dan duduk telentang di sampingku, kedua pahanya terbuka lebar. Aku mengelus batang kejantananku yang hampir memuncratkan maniku karena sudah sangat birahi melihat pertunjukan Anisa. Aku berdiri dan berjoget, yang kubuat seerotis mungkin, kupegang erat-erat penisku dan kukocok-kocok lembut. Aku melihat Anisa memainkan lagi telunjuknya di vaginanya, sementara aku masih menggoyangkan pingggulku. Aku hentakkan lembut sambil kukocok penisku sendiri, fantasi ini memang luar biasa nimatnya.

Aku melihat Anisa mulai menegang, tapi kali ini ia tidak memejamkan matanya, ia hanya mendesis, mendesah dan sesekali metanya yang indah itu terpejam. Baby oil membuat penisku semakin terasa lembut dan penisku bertambah semakin hangat. Darahku berdesir kencang melihat Anisa meregang orgasmenya.
“Aaakhhggghh… mmmppphhh..!” desah Anisa yang kulihat dari vokal bibirnya.
Aku juga ingin segera memuntahkan spermaku di hadapan Anisa, kupercepat kocokan penisku dan semakin lama kocokanku tidak beraturan.
Goyangan pinggulku pun semakin tidak menentu dan semenit kemudian, nafasku terhenti, dan, “Aaaakkhhh… crotthh.. crottthhh..!” spermaku memancar deras bersamaan lelehan mani Anisa di sofa.

Aku lalu menghampiri Anisa, kubimbing dia untuk berdiri, lalu aku duduk. Anisa kini berdiri dengan kedua lututnya dan kedua pahanya mengangkangi pinggulku. Pengaruh viagra menjadikan penisku tetap tegak meski sudah memuncratkan laharnya. Aku pegang pinggul Anisa dan kubimbing liang vaginanya mendekati batang kejantananku. Hanya dalam sekejap, seluruhnya amblas.
“Slleerrppptt..!” 15 cm penisku sudah menjejali vagina Anisa dengan mudah.
“Aaaghhh… ookkhhh… mmmppphhh.. ssshshhh… ssshhh.. nimathhh..!” ceracau Anisa.
“Mmmpphh… tusuk.. yang.. dall.. lammphh..!” pinta Anisa.
Aku sentakkan keras, dan amblas lagi penisku dalam vaginanya, kami bergoyang menggapai orgasme seirama dentuman musik.

Anisa memang hebat, 30 menit berlalu, kami belum juga ada tanda-tanda orgasme, malah ia tambah hebat. Ia berjongkok dengan kakinya dan bergoyang hebat, sesekali tubuhnya kian naik dan turun mengocok penisku. Pada menit ke 50, saat tubuh kami sudah mulai lemas, Anisa terdiam dan wajahnya ekspresif sekali, itulah tanda orgasmenya segera datang. Aku lalu meraih minuman mineral dan menenggaknya. Dan setelah kuletakkan, aku menambah tempo perputaran pinggulku.
“Aaahhh… Kkuu.. maauuu.. sss..!” desis Anisa yang kututup bibirnya dengan kecupanku.
“Nggghhh… oookkkhhh… Yaannn… aaa…. kkkuu..” mata Anisa mendelik dan di bagian lain vaginanya mengempot keras.

Aku pun tidak tahan untuk segera ejakulasi, karena orgasme kami telah kami capai entah berapa puluh kali.
“Akk.. kuuu… nnnghhh..!” Anisa mulai terengah.
“Sammm… ma.. sammm.. maa Tante..!” pintaku sambil menghisap putingnya.
Lima detik kemudian, kepalanya mendongak menjauhiku, tangannya mencengkeram keras ke pundakku.
“Yaaannn… aaaggghhh… oooggghhh.. mmmppphhh… aa, aaa… aaa… aaa.. aaakhhh..!” kami ejakulasi dan orgasme bersamaan.

Ah, gila memang fantasi Anisa, namun nikmat tiada tara. Spermaku terasa kering tersedot empotan vagina Anisa. Yuni akhirnya menyusul kami ke ruang tengah, sementara Yudhi terkapar di ruang tamu. Aku menghabiskan lagi satu babak dengan Yuni, hingga kami bertiga ketiduran dan terbangun tengah malam. Kami lalu bertiga keluar mencari STMJ. Setelah mengantar Yudhi pulang, kami melanjutkan permainan kami di Graha Santika Hotel.

Di hotel kami membuat fantasi. Pertama-tama adalah Yuni dan Anisa bermain lesbi dan aku beronani ria sambil menyaksikan mereka. Kemudian aku dan Yuni berkuda lumping, sementara Anisa masturbasi ria sambil menyaksikan kami. Dan ketiga kami berdisco dan joget bersamaan dan masing masing sambil bermasturbasi ria, lalu aku menyetubuhi dua wanita itu bergantian.

“Yach kadang fantasi seksual memang harus dituruti..” kata Anisa suatu saat setelah Yuni ketiduran karena lelah.
“Aku tidak pernah dapat mengekspresikan hal ini kepada suamiku yang super sibuk dan tidak dapat memuaskan Aku karena impoten serta sibuk dengan WIL-nya.” keluh anisa seraya mengepulkan asap mild-nya.
“Nich.., terima..!” kata Anisa seraya menyodorkan puluhan lembar ratusan ribu.
“No.. thanks..,” aku menepis tangan Anisa.
“Liburanku ini pun teramat indah bagiku.. dan itu lebih indah besama Tante.” tambahku.
“Kalo Lo mau, nanti kukenalkan WIL suamiku padamu, dan Ia juga sangat berfantasi seperti Aku.” sambung Anisa.

Kami bertiga pun akhirnya tertidur mesra, dan esok pagi kulanjutkan perjalanan kami ke Bandungan dan menginap 3 hari tiga malam disana.
Post Title : Simpang 5....

Simpang 5....,

Simpang 5....

0 komentar

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.